Mendengar Suara Perempuan Lansia Perdesaan di Pulau Sumatera

PALEMBANG , Obornusantara.com – Konsorsium PERMAMPU berkolaborasi dengan Ashoka menyelenggarakan perayaan Hari Lansia Internasional 2026 dengan mengangkat suara dan pengalaman perempuan lansia, khususnya mereka yang hidup di perdesaan dan kelompok marginal.

Perayaan yang diselenggarakan secara hibrida pada Kamis, 1 Oktober 2026, ini berpusat di Kota Palembang dan terhubung dengan 172 titik Zoom di 10 provinsi cakupan PERMAMPU dan jaringan di seluruh Indonesia..

Kegiatan ini mempertemukan 387 peserta (366 perempuan dan 21 laki-laki) lintas generasi, yang terdiri atas perempuan lansia dan pra-lansia, perempuan muda, serta kader perempuan dampingan anggota dan mitra PERMAMPU di 10 provinsi di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Kegiatan juga melibatkan jejaring Ashoka, mitra INKLUSI, organisasi perangkat daerah, organisasi perempuan, dan jaringan masyarakat sipil di seluruh Indonesia.

Kegiatan menghadirkan Niken Lestari Konsultan FPAR (Feminist Participatory Action Research) dari PERMAMPU yang memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia di Pulau Sumatera, Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara-Nani Zulminarni, Ibu Tirta Sutedjo dari Bappenas, testimoni perempuan lansia dari berbagai provinsi, serta berbagi praktik baik dari mitra INKLUSI, yaitu Tri Hastuti dari ‘Aisyiyah, Ciciek Farha dari Ledokombo, dan Khotimun Susanti, Direktur Asosiasi LBH APIK Jakarta.
Ibu Kate Shanahan, Team Leader INKLUSI, dalam sambutannya menekankan pentingnya menyediakan ruang untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan strategis perempuan lansia.

Menurutnya, perayaan Hari Lansia Internasional bukan sekadar momentum seremonial, tetapi menjadi ajakan untuk melihat kembali posisi perempuan lansia dalam masyarakat. Perempuan lansia merupakan kelompok yang memiliki pengetahuan, kemampuan mengambil keputusan, serta kontribusi sosial dan ekonomi.

Koordinator PERMAMPU, Dina Lumbantobing, menyampaikan bahwa perempuan lansia telah menjadi bagian penting dalam pengorganisasian perempuan akar rumput anggota PERMAMPU melalui Credit Union (CU).

“Sekitar 20 persen anggota CU adalah perempuan lansia sesuai dengan definisi dalam UU, tanpa menafikan anggota lain yang memaknai dirinya sudah  mulai menua sejak mengalami menopause di usia 50an bahkan 40an. Dukungan INKLUSI dalam penguatan perspektif GEDSI membuka dan menguatkan komitmen PERMAMPU untuk menyediakan ruang dalam mendengarkan, bersuara dan memahami kebutuhan strategis perempuan lansia, khususnya di perdesaan dan kelompok marginal,” kata Dina.

Dalam kegiatan tersebut, Konsorsium PERMAMPU memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia dan pra-lansia melalui pendekatan FPAR. Hasil asesmen menunjukkan lima temuan penting:

Beban kerja perawatan perempuan lansia masih tinggi dan belum diakui. Perempuan lansia di perdesaan memikul berbagai tugas perawatan, seperti mengasuh cucu, merawat anggota keluarga yang sakit atau anak dengan disabilitas, serta merawat diri sendiri. Kerja-kerja perawatan tersebut belum sepenuhnya diakui secara sosial dan ekonomi sehingga diperlukan pengakuan serta pembagian beban pengasuhan yang lebih adil.
Perempuan lansia masih aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi dan sosial, antara lain bertani, berdagang, dan menjadi kader CU.
Keterbatasan akses transportasi dan digitalisasi dapat memicu eksklusi baru. Keterbatasan transportasi dan pendaftaran layanan melalui aplikasi dapat menyulitkan perempuan lansia. Digitalisasi tanpa pendekatan inklusif berpotensi menciptakan eksklusi baru. Karena itu, diperlukan fasilitas publik dan layanan kesehatan yang mudah  dan mampu diakses agar perempuan lansia tetap mandiri.
Kesehatan perempuan lansia berkaitan dengan pengalaman sepanjang siklus hidup. Perempuan lansia menghadapi masalah kesehatan paska menopause, penyakit kronis dan gangguan buang air kecil.
Kondisi kesehatan mereka juga beririsan dengan pengalaman dan beban reproduksi pada masa sebelumnya. Di sisi lain, stigma dan anggapan tabu mengenai seksualitas perempuan lansia masih ditemukan.
Perempuan lansia membutuhkan ruang untuk bersosialisasi, belajar, dan berekspresi. Mereka membutuhkan ruang curhat, rekreasi, hiburan, dan belajar tanpa diskriminasi. Minimnya ruang partisipasi yang inklusif dapat meningkatkan isolasi dan kerentanan psikososial, terutama bagi perempuan lansia yang hidup sendiri dan berada dalam kondisi miskin.

Temuan tersebut diperkuat oleh Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, melalui gagasan New Longevity atau Menua dengan Suka Cita.

Menurutnya, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap proses menua, dari melihat perempuan lansia sebagai beban menjadi melihat mereka sebagai aset kehidupan dan kontributor sepanjang hayat. Juga ditekankan adanya lima pola untuk memastikan kehidupan dalam era New Longevity, yaitu pentingnya kesehatan dan wellbeing; pengakuan terhadap orang berusia 50 tahun ke atas sebagai kontributor; kesempatan untuk terus belajar dan bekerja sepanjang hayat; kolaborasi lintas generasi; serta perubahan sistem, kebijakan, dan hukum yang mendukung keberagaman usia.

Dalam kegiatan tersebut juga hadir Tirta Sutedjo dari Bappenas yang berbagi perspektif mengenai pembangunan dan isu penuaan penduduk. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah memasukkan isu kelanjutusiaan dalam RPJMN 2025–2029 melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN.

Dalam RKP 2027, isu kelanjutusiaan menjadi salah satu isu strategis pembangunan manusia yang inklusif, sejalan dengan pengarusutamaan inklusi sosial yang telah menjadi kerangka kebijakan lintas sektor.

“Temuan PERMAMPU mengenai pengalaman dan kebutuhan strategis perempuan lansia di perdesaan diharapkan dapat semakin memperkuat upaya pemerintah dalam merancang kebijakan dan program kelanjutusiaan yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat” tambahnya.

Sebagai penutup, Koordinator PERMAMPU menegaskan bahwa membangun ekosistem yang  ramah pada perempuan lansia tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan bagi lansia. Dibutuhkan perubahan cara pandang dan sistem yang mengakui perempuan lansia sebagai warga yang aktif, memiliki hak, suara, pengetahuan, serta kemampuan untuk terus berkontribusi. PERMAMPU menutup perayaan dengan kesadaran bahwa semua pasti menua, dan bahwa di semua tingkatan umur, setiap perempuan berperan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *