Science Film Festival 2026 Hadir di 70 Kota, Kenalkan Peluang dan Tantangan AI kepada Pelajar

JAKARTA, obornusantara.com – Science Film Festival kembali digelar di Indonesia untuk ke-17 kalinya dengan menjangkau pelajar jenjang SD hingga SMA di 70 kabupaten/kota yang berlangsung secara hybrid pada 6 Oktober–14 November 2026.

Festival yang diinisiasi oleh Goethe-Institut ini mengangkat tema Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, mengajak generasi muda mengenal potensi sekaligus tantangan AI melalui perpaduan pemutaran film serta eksperimen sains yang menyenangkan.

Di Indonesia, festival ini menghadirkan 20 film dari tujuh negara, yaitu Jerman, Kolombia, Belanda, Argentina, Meksiko, Yunani, dan Korea Selatan. Setelah pemutaran film, peserta akan diajak mengikuti eksperimen sains interaktif.

Rangkaian festival dijadwalkan diputar bergantian secara luring di sekolah-sekolah, universitas, pusat sains, komunitas, serta secara daring via Zoom. Festival ini menjangkau berbagai kabupaten/kota seperti Aceh Besar, Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Ende, Tobelo, Kupang, Maumere, Waingapu, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Science Film Festival berfokus pada AI, sebuah teknologi yang dengan cepat mengubah masyarakat dan menimbulkan pertanyaan mendasar tentang masa depan. AI tidak hanya membentuk industri, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari, tetapi juga semakin diterapkan dalam konteks lingkungan dan keberlanjutan.

Dari melacak keanekaragaman hayati dengan pengenalan gambar tingkat lanjut, hingga mengoptimalkan sistem energi terbarukan, hingga memodelkan skenario perubahan iklim, AI menawarkan alat canggih yang dapat mendukung konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

Namun, peluang ini juga datang dengan tantangan. Munculnya AI menimbulkan pertanyaan mendesak tentang penggunaan data, transparansi, kesetaraan, dan jejak lingkungannya sendiri, termasuk tuntutan energi yang signifikan dari komputasi skala besar. Seperti banyak teknologi baru, dampak AI tergantung pada bagaimana masyarakat memilih untuk menerapkannya.

Science Film Festival di Indonesia tahun ini didukung oleh sejumlah mitra, yakni Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah; Kedutaan Besar Republik Federal Jerman; Rolls-Royce; dan Universitas Negeri Jakarta.

Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Constanze Michel, saat pembukaan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyampaikan Festival ini mempertemukan penonton dengan film-film yang mengeksplorasi peran AI dalam sains, pendidikan, dan keberlanjutan, serta bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan secara bijak untuk menghadapi tantangan global.

“Science Film Festival tahun ini bertujuan untuk mendorong refleksi tentang bidang yang berkembang pesat ini. Melalui pemutaran film dari berbagai negara, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi sains secara menyenangkan,” kata dia.

Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ralf Beste menyatakan bahwa Science Film Festival merupakan kesempatan yang sangat baik untuk membangkitkan rasa ingin tahu generasi muda terhadap sains dan teknologi, serta menginspirasi mereka untuk turut membentuk masa depan.

“Jerman dan Indonesia sama-sama memiliki perhatian yang mendalam terhadap pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memajukan sains, pendidikan, dan solusi berkelanjutan bagi berbagai tantangan global, sekaligus menciptakan peluang-peluang baru bagi generasi muda di kedua negara kita. Pada saat yang sama, kita harus memastikan bahwa AI dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab, dengan menempatkan manusia, transparansi, perlindungan data, dan integritas ilmiah sebagai landasan utama,” tutur dia.

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru Maila Dinia Husni Rahiem, menyampaikan Tema Science Film Festival tahun ini memberikan banyak hal untuk dieksplorasi.

“Bagaimana cara komputer mengenali gambar? Bagaimana proses AI dalam mencapai sebuah jawaban? Dan bagaimana kita bisa mengetahui apakah jawaban tersebut betul atau tidak? Tema ini terkait erat dengan coding dan kecerdasan buatan, pelajaran yang kini diajarkan di sekolah. Film-film ini dapat membantu melihat bagaimana AI digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan terhubung dengan apa yang kalian pelajari di kelas,“ ujar dia.

Lebih dari 250 siswa-siswi menyaksikan dua film saat pembukaan Science Film Festival 2026 berlangsung di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta. Mereka menonton film asal Jerman berjudul Sembilan Setengah – Melindungi Iklim di Dunia Digital dan Sembilan Setengah – ChatGPT di Ruang Kelas. Setelah pemutaran film, para siswa mengikuti eksperimen “Water Bubble: Dancing Bubbles”, “Dark Transformation: Black Reaction”, dan “Color Vanishing: The Disappearing Color”.

Sejak diluncurkan di Thailand pada tahun 2005, Science Film Festival konsisten mempromosikan literasi sains kepada pemuda di Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah melalui komunikasi berbasis pengetahuan yang menghibur.

Science Film Festival diperkenalkan dan diadakan di Indonesia pada tahun 2010 seiring dengan upaya ekspansi regional festival pada masa itu. Tahun lalu, Science Film Festival diikuti oleh 74.857 peserta dari lebih dari 200 sekolah di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *